Tren AI dalam Pembelajaran: Cara Guru dan Siswa Beradaptasi di 2026
Tren AI dalam Pembelajaran Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) kini merambah dunia pendidikan dengan cepat. Berbagai platform pembelajaran berbasis AI bermunculan dan mengubah cara guru mengajar serta siswa belajar. Tidak hanya sebagai alat bantu, AI mulai mengambil peran sebagai asisten pribadi bagi setiap siswa. Namun, adaptasi terhadap teknologi ini tidak berjalan mulus di semua sekolah. Berikut adalah perkembangan tren AI dalam pembelajaran serta cara guru dan siswa beradaptasi di tahun 2026.
Peran AI dalam Personalisasi Belajar
Salah satu keunggulan utama AI dalam pendidikan adalah kemampuannya mempersonalisasi pembelajaran. Sistem AI dapat menganalisis kecepatan belajar setiap siswa secara individual. Sistem juga dapat mengidentifikasi materi mana yang sudah dikuasai dan mana yang masih sulit. Berdasarkan data ini, AI merekomendasikan materi latihan yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing siswa.
Platform seperti Squirrel AI dan Knewton telah menerapkan teknologi ini secara luas. Di Indonesia, beberapa sekolah swasta mulai mengadopsi platform serupa. Guru tidak lagi harus memberikan tugas yang sama untuk semua siswa. Setiap siswa mendapat tantangan yang sesuai dengan kemampuannya masing-masing.
Seorang guru matematika di Jakarta, Ibu Ratna, mengaku terbantu dengan adanya AI. “Dulu saya kesulitan memberikan perhatian khusus ke 30 siswa sekaligus. Sekarang AI membantu memetakan kesulitan setiap anak. Saya jadi tahu mana yang perlu bantuan ekstra,” ujarnya.
AI sebagai Asisten Guru, Bukan Pengganti
Banyak kalangan khawatir AI akan menggantikan peran guru di kelas. Namun, para ahli menegaskan bahwa AI dirancang sebagai asisten, bukan pengganti. AI dapat mengerjakan tugas-tugas administratif yang memakan waktu. Contohnya mengoreksi jawaban pilihan ganda, merekap nilai, atau membuat laporan perkembangan siswa.
Dengan terbantunya tugas-tugas ini, guru punya lebih banyak waktu untuk berinteraksi dengan siswa. Guru bisa fokus pada aspek pengembangan karakter dan soft skill. Hal-hal seperti empati, kreativitas, dan kerja sama tim tidak bisa diajarkan oleh AI.
Mendikdasmen Abdul Mu’ti menegaskan pentingnya peran guru di era AI. “Teknologi hanyalah alat. Guru tetap menjadi ujung tombak pendidikan karena mereka membentuk karakter dan nilai-nilai kemanusiaan,” ujarnya dalam seminar pendidikan di Jakarta pekan lalu.
Adaptasi Siswa terhadap AI
Siswa generasi sekarang tumbuh bersama teknologi digital. Mereka umumnya lebih cepat beradaptasi dengan AI dibanding guru. Banyak siswa sudah menggunakan ChatGPT untuk membantu mengerjakan tugas. Beberapa bahkan menggunakannya untuk membuat ringkasan materi atau mencari referensi.
Namun, penggunaan AI oleh siswa juga menimbulkan masalah baru. Tidak sedikit siswa yang menyalahgunakan AI untuk mengerjakan tugas secara instan. Mereka tinggal menyalin jawaban dari AI tanpa memahami materinya. Hal ini mengkhawatirkan para pendidik.
Guru dituntut kreatif membuat tugas yang tidak bisa dikerjakan AI secara instan. Tugas yang membutuhkan analisis kritis, pengalaman pribadi, atau proyek lapangan menjadi solusi. Siswa juga perlu diedukasi tentang etika penggunaan AI dalam belajar.
Pelatihan Guru: Masih Tertinggal
Sayangnya, adaptasi guru terhadap AI tidak secepat adaptasi siswa. Survei Kementerian Pendidikan menunjukkan hanya 35 persen guru yang pernah mengikuti pelatihan AI. Di daerah tertinggal, angka ini bahkan di bawah 10 persen. Banyak guru masih merasa canggung dan takut dengan teknologi baru.
Pemerintah melalui program “Guru Melek Digital” berupaya mengatasi masalah ini. Targetnya pada akhir 2026, setengah dari guru di Indonesia sudah terlatih menggunakan AI. Pelatihan mencakup penggunaan AI untuk administrasi, pembuatan materi, hingga penilaian.
Namun, pelatihan saja tidak cukup. Sekolah juga perlu menyediakan infrastruktur pendukung seperti komputer dan akses internet. Tanpa itu, pelatihan hanya akan sia-sia.
Tantangan Infrastruktur di Daerah Tertinggal
Kesenjangan digital antara kota dan desa menjadi penghalang terbesar adopsi AI di pendidikan. Sekolah di daerah terpencil belum memiliki akses internet memadai. Listrik pun masih menjadi masalah di beberapa wilayah timur Indonesia.
Sementara itu, sekolah di kota besar sudah mulai menggunakan laboratorium AI. Siswa di Jakarta, Surabaya, dan Bandung sudah belajar coding dan machine learning sejak SMP. Kesenjangan ini berpotensi memperlebar ketimpangan kualitas pendidikan antar daerah.
Pemerintah melalui program BAKTI Kominfo terus membangun infrastruktur internet di daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal). Namun, pembangunan ini membutuhkan waktu dan anggaran yang tidak sedikit.
Etika Penggunaan AI dalam Pendidikan
Maraknya penggunaan AI juga memunculkan pertanyaan etis. Apakah boleh siswa menggunakan ChatGPT untuk mengerjakan esai? Apakah guru boleh menggunakan AI untuk menilai karya siswa? Sejauh mana batasan penggunaan AI dalam pendidikan?
Beberapa sekolah telah membuat kebijakan internal tentang penggunaan AI. Umumnya, sekolah mengizinkan AI sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti kerja siswa. Siswa harus mencantumkan jika menggunakan AI dalam mengerjakan tugas. Guru juga wajib transparan jika menggunakan AI dalam proses penilaian.
Pakar etika teknologi dari Universitas Gadjah Mada, Prof. Budi Santoso, menekankan pentingnya literasi AI. “Siswa dan guru harus paham cara kerja AI, termasuk kelemahannya. AI bisa salah dan bias. Jangan pernah memercayai AI sepenuhnya tanpa verifikasi manusia,” jelasnya.
Masa Depan Pembelajaran dengan AI
Ke depan, peran AI dalam pendidikan diprediksi akan semakin besar. Teknologi virtual reality dan augmented reality yang digerakkan AI akan mengubah cara belajar. Siswa bisa belajar sejarah dengan “mengunjungi” langsung situs bersejarah secara virtual. Pelajaran biologi bisa dilakukan dengan “membedah” organ tubuh secara 3D.
Personal tutor berbasis AI juga akan semakin canggih. Tutor ini bisa berinteraksi seperti manusia dan menjelaskan materi dengan berbagai cara. Siswa yang malu bertanya di kelas bisa lebih leluasa bertanya pada tutor AI.
Namun, teknologi secanggih apapun tidak akan menggantikan sentuhan manusia. Peran guru sebagai pembimbing, motivator, dan teladan akan tetap dibutuhkan. Masa depan pendidikan adalah kolaborasi antara kecerdasan manusia dan kecerdasan buatan.
Baca juga: Dampak Kurikulum Merdeka terhadap Hasil Belajar Siswa di Indonesia
Kesimpulan
AI telah mengubah lanskap pendidikan secara fundamental. Personalisasi belajar, efisiensi administrasi, dan akses ke sumber belajar tak terbatas menjadi manfaat utamanya. Namun, adaptasi terhadap teknologi ini masih timpang antara kota dan desa. Guru juga masih tertinggal dalam penguasaan AI dibanding siswa.
Pemerintah perlu mempercepat pelatihan guru dan pembangunan infrastruktur. Sekolah harus membuat kebijakan etis tentang penggunaan AI. Siswa perlu diedukasi agar menggunakan AI secara bijak, tidak sekadar menyalin jawaban.
AI adalah alat yang ampuh, tetapi bukan solusi ajaib untuk semua masalah pendidikan. Kolaborasi antara guru, siswa, dan AI akan menciptakan pengalaman belajar yang lebih baik. Yang terpenting, nilai-nilai kemanusiaan seperti empati, kreativitas, dan tanggung jawab harus tetap menjadi inti pendidikan. Teknologi berubah, tetapi hakikat pendidikan tetap sama: memanusiakan manusia.