Program Indonesian International Student Assessment (IISA) Resmi Diluncurkan
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah meluncurkan asesmen internasional bernama Indonesian International Student Assessment (IISA) pada 1 Maret 2026. Abdul Mu’ti, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, meresmikan program ini di Jakarta. Program ini mengukur kemampuan literasi, numerasi, dan sains siswa kelas VIII SMP. IISA menjadi asesmen internasional pertama yang sepenuhnya dirancang dan dikelola oleh Indonesia. Target program ini menjangkau 500 ribu siswa dari 10 ribu sekolah pada tahun pertama.
Abdul Mu’ti menjelaskan latar belakang peluncuran IISA. Indonesia berpartisipasi dalam Programme for International Student Assessment (PISA) sejak tahun 2000. Hasil PISA Indonesia masih berada di peringkat bawah selama dua dekade terakhir. Data PISA 2022 menunjukkan kemampuan literasi siswa Indonesia setara dengan siswa kelas IV di negara maju. Indonesia memerlukan asesmen sendiri yang lebih kontekstual dengan kondisi lokal.
Baca juga: UU Sisdiknas Disahkan, Wajib Belajar Jadi 13 Tahun dan Bahasa Inggris Jadi Mapel Wajib
“Kita tidak bisa terus-menerus mengandalkan asesmen buatan luar negeri. IISA dirancang khusus untuk mengukur kemampuan siswa Indonesia. Konteks budaya dan kurikulum kita sendiri menjadi dasar penyusunan soal. Hasilnya akan lebih akurat dan relevan,” ujar Abdul Mu’ti.
Tiga Kompetensi Utama IISA
IISA menguji tiga kompetensi utama siswa. Kompetensi pertama adalah literasi membaca dengan fokus pada pemahaman teks panjang. Teks mencakup materi sastra, ilmiah, dan prosedural. Kompetensi kedua adalah numerasi dengan soal berbasis masalah nyata sehari-hari. Siswa perlu menerapkan konsep matematika dalam situasi praktis. Kompetensi ketiga adalah literasi sains yang menguji kemampuan berpikir ilmiah. Siswa juga harus merancang eksperimen sederhana.
Peserta IISA adalah siswa kelas VIII SMP, MTs, dan sederajat. Pemerintah memilih kelas VIII karena usia ini setara dengan peserta PISA. Sampel diambil secara acak dari 10 ribu sekolah di 34 provinsi. Sekolah negeri dan swasta mendapatkan kesempatan yang sama. Sekolah di daerah 3T juga termasuk dalam sampel.
Abdul Mu’ti menegaskan bahwa IISA tidak menentukan kelulusan siswa. “IISA murni untuk pemetaan kualitas pendidikan. Hasilnya tidak mempengaruhi nilai rapor atau kelulusan siswa. Kami ingin siswa mengerjakan soal dengan tenang tanpa tekanan,” tegasnya.
Desain Soal dan Instrumen
Tim penyusun soal IISA terdiri dari 200 guru, dosen, dan peneliti pendidikan. Pusat Asesmen Pendidikan (Pusmendik) mengoordinasikan proses penyusunan soal.
Tim penyusun memberikan beberapa contoh soal. Contoh soal literasi: siswa membaca teks tentang tradisi Sekaten di Yogyakarta. Siswa perlu menganalisis nilai-nilai budaya dan sejarah yang terkandung. Contoh soal numerasi: siswa menghitung volume air yang dibutuhkan untuk sawah tadah hujan. Contoh soal sains: siswa menjelaskan proses fotosintesis pada pohon jati yang menggugurkan daun di musim kemarau.
IISA menggunakan sistem computer adaptive testing (CAT). Tingkat kesulitan soal menyesuaikan dengan kemampuan siswa secara real-time. Siswa dengan kemampuan tinggi mendapat soal lebih sulit. Siswa dengan kemampuan rendah mendapat soal lebih mudah. Sistem ini menghemat waktu dan mengukur kemampuan secara akurat.
Jadwal Pelaksanaan
Setiap siswa mengerjakan soal selama 2 jam tanpa istirahat. Waktu terbagi menjadi 40 menit untuk literasi. Selanjutnya, 40 menit untuk numerasi. Kemudian, 40 menit untuk sains. Siswa dapat mengerjakan soal dari komputer sekolah atau tablet yang disediakan. Sekolah yang tidak memiliki perangkat dapat meminjam dari dinas pendidikan.
Pemerintah menyediakan cadangan perangkat sebanyak 20 persen dari total peserta. Cadangan ini mengantisipasi kerusakan teknis saat ujian berlangsung. Tim teknis juga siaga di setiap provinsi untuk menangani kendala.
Pelatihan Proktor dan Teknisi
Kemendikdasmen menyelenggarakan pelatihan proktor dan teknisi IISA secara massal. Target pelatihan mencakup 20 ribu proktor dari 10 ribu sekolah. Pelatihan berlangsung selama 3 hari secara luring di 34 provinsi. Materi pelatihan meliputi instalasi sistem, troubleshooting, dan tata cara pengawasan.
Setiap sekolah wajib mengirim 2 proktor yang menguasai teknologi informasi. Proktor bertanggung jawab memastikan kelancaran teknis ujian. Proktor juga mengawasi siswa selama ujian berlangsung. Dinas pendidikan provinsi menyediakan pelatih yang sudah tersertifikasi.
Pemerintah juga melatih 1.000 teknisi yang tersebar di seluruh provinsi. Teknisi ini bertugas menangani kerusakan perangkat keras dan lunak. Teknisi dapat dihubungi melalui hotline 24 jam saat ujian berlangsung.
Pengolahan dan Analisis Data
Hasil IISA akan diolah menggunakan metode Item Response Theory (IRT). Metode ini mengukur kemampuan siswa secara statistik, bukan sekadar skor mentah. IRT juga menyesuaikan tingkat kesulitan soal yang berbeda antar siswa. Hasil akhir disajikan dalam skala 0 hingga 800, sama seperti PISA.
Pemerintah menargetkan rata-rata skor IISA 400 pada tahun 2026. Target ini meningkat secara bertahap menjadi 500 pada tahun 2030. Target jangka panjang Indonesia adalah mencapai rata-rata 550 pada tahun 2035. Angka ini setara dengan rata-rata negara maju saat ini.
Hasil IISA akan dipublikasikan secara nasional pada bulan September 2026. Publikasi mencakup skor rata-rata nasional, provinsi, dan kabupaten atau kota. Data juga akan membandingkan hasil antar jenis kelamin, tipe sekolah, dan status sosial ekonomi. Pemerintah merahasiakan skor individu siswa dan sekolah.
Pemanfaatan Hasil IISA
Pemerintah akan menggunakan hasil IISA untuk merumuskan kebijakan pendidikan. Daerah dengan skor rendah mendapat prioritas bantuan peningkatan kualitas. Bentuk bantuan meliputi pelatihan guru, buku teks, dan alat peraga. Sekolah dengan skor tinggi mendapat penghargaan dan tambahan dana BOS.
Hasil IISA juga menjadi bahan evaluasi kurikulum.
Abdul Mu’ti menekankan pentingnya tindak lanjut hasil asesmen. “Data tanpa tindak lanjut hanya angka mati. IISA harus berdampak pada perbaikan pembelajaran di kelas. Setiap daerah harus membuat rencana aksi berdasarkan hasil IISA,” ujarnya.
Anggaran dan Target Jangka Panjang
Pemerintah mengalokasikan Rp800 miliar untuk penyelenggaraan IISA 2026. Anggaran ini mencakup pengembangan soal, pelatihan proktor, dan pengadaan perangkat. Biaya transportasi dan konsumsi siswa juga termasuk dalam anggaran ini. Siswa tidak di pungut biaya apapun untuk mengikuti IISA.
Pemerintah juga merencanakan partisipasi negara tetangga di IISA pada tahun 2028. Brunei Darussalam, Malaysia, dan Timor Leste menyatakan minat bergabung. Indonesia akan menjadi penyelenggara asesmen internasional, bukan sekadar peserta.
Kesimpulan
Pemerintah meluncurkan program IISA pada 1 Maret 2026. Program ini mengukur kemampuan literasi, numerasi, dan sains siswa kelas VIII. IISA menjadi asesmen internasional pertama buatan Indonesia. Target program ini menjangkau 500 ribu siswa dari 10 ribu sekolah pada tahun pertama.
IISA menggunakan sistem computer adaptive testing (CAT). Pelaksanaan berlangsung dalam tiga gelombang pada April hingga Juni 2026. Pemerintah melatih 20 ribu proktor dan 1.000 teknisi untuk mendukung kelancaran ujian. Hasil IISA akan di olah dengan metode Item Response Theory (IRT). Target rata-rata skor IISA 400 pada tahun 2026.
Pemerintah akan menggunakan hasil IISA untuk merumuskan kebijakan pendidikan. Daerah dengan skor rendah mendapat prioritas bantuan peningkatan kualitas. Anggaran Rp800 miliar mendukung penyelenggaraan IISA 2026. Target jangka panjang, seluruh siswa kelas VIII akan mengikuti IISA pada tahun 2029. Indonesia juga berencana mengajak negara tetangga berpartisipasi pada tahun 2028. IISA adalah langkah besar menuju pemetaan kualitas pendidikan yang akurat dan mandiri. Anak-anak Indonesia kini di ukur dengan alat ukur yang mereka kenali. Hasilnya akan lebih relevan dan berdampak langsung pada perbaikan pembelajaran.
